Salah satu doa yang sering kali saya
panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan
teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan
saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.
Saya sekamar dengan tiga orang
lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor
11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer
dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya
tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard
hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di
Madinah.
Ada beberapa cara pergi ke Masjidil
Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan
cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up
(mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang.
Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang
terjatuh dari mobil.
Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf.
Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya
dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak
sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road.
Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga
jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu
kilometer untuk sampai Masjidil Haram.
Atau naik bus gratis yang disediakan
Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang
lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau
enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa
kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena
jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus
sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13
Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.
Yang dari Bakhutmah dan Misfalah
kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat
dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday.
Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita
naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau
maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar
sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil
Haram.
Kalau kita naik bus dari Kuday, maka
kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari
Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki
ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh
orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya
hijau yah…
Silakan pilih moda transportasi yang
mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang
sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang
penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang
berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat,
maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam
langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat.
Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang
kedua. Menunggu saja.
Biasanya kalau sudah mulai sepi di
hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke
Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang
Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat
jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan
mengangkat telunjuk menandakan angka satu.
Mereka minta infak kepada kita satu reyal
untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta
tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat
pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya
berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah,
Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.
Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.
(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)
Syukurnya flat kami ini habis di
renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya
tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini
adalah pintu gerbang flat kami.
(Suasana saat mau pergi ke Madinah)
Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.
(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)
Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin
banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan
sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di
sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin
juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.
Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung
di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam
rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang
bersahaja.
Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.
Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J
Sering kali kalau saya ingat Makkah
alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi
perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau
kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di
surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.
Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.
Maka segeralah ke sana.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
No comments:
Post a Comment